Bismillahirrahmanirrahiim...
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui."
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui."
(QS. al-An'aam: 103)
Today, this article i review from Yusuf Mansur's book, b'cause i think it's important to share.
Sejatinya Allah Maha Melihat dan Maha Mengawasi. Setiap detik, menit dan jam dalam sehari, dan setiap harinya, kita tak luput dari penglihatan dan pengawasan-Nya. Sebagai orang yang mengaku beriman, jelas harus mengakui keimanan akan penglihatan dan pengawasan Allah. Ditambah lagi dengan kesejatian Allah Maha Memiliki Balas, disamping itu tentunya Allah Maha Pengampun. Tidak mungkin sebagai orang beriman, lalu kita tak mengetahui sebagian dari sifat-sifatnya seperti yang disebutkan di atas yaitu Maha Melihat, Maha Mengawasi, Maha Membalas. Namun nafsu dan lemahnya iman yang membuat seakan-akan kita berjalan tanpa adanya Allah di kehidupan kita;
- Kita dengan mudah meninggalkan shalat, atau melalaikannya mengerjakan shalat di akhir waktu, atau semaunya dengan kemalasan. Atau kita melakukan ibadah lainnya dengan berat, tanpa menyadari bahwa hal itu harus kita lakukan karena Allah meminta kita beribadah kepada-Nya, sekaligus sebagai bukti syukur dan bukti kecintaan kita kepada-Nya.
- Kita mengambil rezeki orang dengan santainya. Seakan tidak tahu bahwa Allah Maha Mengawasi.
- Kita kumpulkan harta haram dengan enaknya. seakan tidak tahu bahwa Allah Maha Melihat.
- Kita menyakiti orang dengan mudahnya. Seakan tidak tahu bahwa Allah Maha Membalas.
- Kita buat diri kita menjadi sumber dosa dan maksiat. Seakan kita hidup takkan pernah mati, dan tidak akan dipertanggungjawabkan apa yang telah kita perbuat di dunia.
Semua itu menjadi bukti bahwa tiada iman (atau sedikit, dengan cahaya iman yang hampir padam) dalam hati kita. Syahadat yang kita ucapkan dalam shalat, menjadi pertanyaan ulang tentang kualitasnya. Padahal syahadat adalah mempersaksikan bahwasanya tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad utusan Allah. Tapi kenyataannya? Dalam beribadah dan bermuamalah kita tidak seperti hamba Allah dan ummat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam. Lihat saja hal ini, mengaku ummat Nabi Muhammad, tapi menjalankan shalat sunnah dan puasa sunnah sangat jarang, selain mudah melakukan maksiat dan dosa.
Kita tahu Allah, tapi kita seperti tidak tahu
Kita mengenal Allah, tapi seperti tidak mengenal-Nya.
Tahu sekadar tahu, kenal sekadar kenal
Tak berbekas dan berpengaruh di kehidupan
Apakah ini yang dinamakan iman?
Wallahu'alam...
No comments:
Post a Comment